Dialog Fisika Kuantum dan Tauhid dalam Perspektif Modern**
Oleh:
Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si.
Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, Universitas Sumatera Utara – Medan
SISTEMATIKA LENGKAP MAKALAH
1. Abstrak
Penemuan Higgs boson pada tahun 2012 oleh kolaborasi ilmuwan di CERN melalui eksperimen di Large Hadron Collider menandai tonggak penting dalam fisika partikel modern. Partikel ini menjelaskan mekanisme asal-usul massa dalam Model Standar. Dalam ruang publik, Higgs boson sering dijuluki “God Particle”, sebuah istilah yang memicu perdebatan teologis dan filosofis.
Makalah ini menganalisis secara integratif hubungan antara mekanisme Higgs dan metafisika tauhid. Dengan menggunakan kerangka ontologi Wajib al-Wujud dari Ibn Sina, kritik epistemologis Al-Ghazali, serta konsepsi tajalli dari Ibn Arabi, tulisan ini menunjukkan bahwa tidak terdapat konflik esensial antara fisika modern dan tauhid, selama keduanya dipahami dalam domain epistemik yang berbeda.
2. Pendahuluan
Perkembangan fisika modern sering menimbulkan kesan bahwa sains sedang “mengganti” peran teologi. Istilah “God Particle”, yang dipopulerkan oleh Leon Lederman dalam bukunya The God Particle, memperkuat persepsi tersebut di ruang publik.
Namun, apakah Higgs boson benar-benar memiliki implikasi teologis? Ataukah ia sekadar entitas fisik yang disalahpahami secara metaforis?
Makalah ini bertujuan:
-
Mengklarifikasi posisi ilmiah Higgs boson.
-
Menjelaskan kerangka metafisika tauhid.
-
Merumuskan dialog ontologis antara keduanya.
3. Rumusan Masalah
-
Bagaimana mekanisme Higgs dalam Model Standar fisika partikel?
-
Apa dasar ontologis metafisika tauhid dalam tradisi Islam?
-
Apakah terdapat konflik atau korespondensi epistemologis antara keduanya?
4. State of the Art
Penemuan Higgs boson (ATLAS & CMS Collaboration, 2012) menjadi verifikasi terakhir elemen penting Model Standar. Penghargaan Nobel Fisika 2013 diberikan kepada Peter Higgs dan Francois Englert atas prediksi teoretis mekanisme tersebut.
Dalam ranah filsafat sains, Thomas Kuhn menjelaskan bahwa perkembangan sains terjadi melalui pergeseran paradigma. Sementara dalam dialog sains-agama, Ian Barbour mengemukakan empat model relasi: konflik, independensi, dialog, dan integrasi.
Dalam konteks Islam, diskursus metafisika kosmologis telah lama dibahas. Ibn Sina mengemukakan konsep Wajib al-Wujud sebagai sumber eksistensi mutlak. Al-Ghazali mengkritik kausalitas otonom alam. Ibn Arabi mengembangkan konsep wahdat al-wujud sebagai kesatuan ontologis tanpa menyamakan Tuhan dan makhluk.
Kajian integratif antara fisika partikel dan metafisika tauhid secara sistematis masih relatif terbatas, sehingga penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual baru.
5. Grand Theory
5.1 Model Standar Fisika Partikel
Model Standar menjelaskan interaksi fundamental melalui:
-
Elektromagnetik
-
Gaya lemah
-
Gaya kuat
Mekanisme Higgs menjelaskan bahwa massa muncul akibat interaksi partikel dengan medan Higgs yang memiliki nilai vakum non-nol.
5.2 Metafisika Tauhid
Prinsip dasarnya:
-
Allah sebagai Wajib al-Wujud
-
Alam sebagai mumkin al-wujud
-
Hukum alam sebagai sunatullah
Dalam kerangka ini, realitas fisik bersifat kontingen dan bergantung pada sebab pertama.
6. Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan:
-
Analisis Konseptual: Membandingkan struktur ontologis Model Standar dengan metafisika tauhid.
-
Pendekatan Historis-Filosofis: Menelaah teks klasik Islam dan teori fisika modern.
-
Pendekatan Dialogis: Menggunakan model relasi sains-agama dari Ian Barbour sebagai kerangka integrasi.
7. Pembahasan
7.1 Mekanisme Massa dan Ketergantungan Ontologis
Higgs boson menjelaskan bagaimana massa muncul, bukan mengapa realitas ada.
Dalam metafisika tauhid, sebab fisik bukan sebab absolut. Ia bersifat instrumental.
7.2 Kesalahan Kategori Ontologis
Menyamakan Higgs dengan Tuhan adalah kekeliruan kategori. Tuhan dalam tauhid:
-
Transenden
-
Non-material
-
Tidak terikat ruang-waktu
Higgs boson adalah entitas kuantum yang dapat diluruhkan dan diukur.
7.3 Keteraturan Kosmik sebagai Ayat Kauniyah
Struktur matematis Model Standar menunjukkan rasionalitas kosmik. Dalam tauhid, keteraturan ini dipahami sebagai tanda, bukan sebagai sumber eksistensi.
8. Implikasi Teoretis
-
Menghindari konflik semu antara sains dan agama.
-
Menawarkan model integrasi epistemik berbasis tauhid.
-
Memperkuat literasi publik tentang batas-batas sains.
9. Kesimpulan
-
Higgs boson adalah entitas fisik dalam Model Standar.
-
Tauhid adalah prinsip metafisika ontologis.
-
Tidak ada konflik esensial antara keduanya.
-
Penamaan “God Particle” bersifat metaforis dan bukan teologis.
Sains menjelaskan mekanisme. Tauhid menjelaskan makna ontologis. Keduanya tidak saling menggantikan.