Sumut.portalmedan//Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) jangan dipahami sebagai ajang perlombaan membaca Al-Qur’an semata, melainkan menjadi ruang komunikasi religius yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Era masyarakat modern membutuhkan medium yang mampu menghubungkan nilai-nilai agama dengan realitas sosial terus bergerak dinamis.
Pelaksanaan MTQ tidak hanya melibatkan peserta dan dewan hakim, tetapi juga melibatkan pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga pendidikan, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum.
Fenomena ini menunjukkan bahwa MTQ bertransformasi menjadi arena interaksi sosial yang mempertemukan nilai spiritual dan kepentingan pembangunan daerah.
MTQ memiliki posisi strategis sebagai instrumen komunikasi keagamaan yang relevan dalam kehidupan masyarakat kontemporer.
Provinsi Sumatera Utara akan menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang ke 40 Pada 16 sampai 24 juni 2026 di Medan.
Berdasar pada pedoman pelaksanaan MTQ Nasional 2025 Sedikitnya ada sebelas cabang yang dipertandingkan mulai dari Cabang seni baca Al-Qur’an, Cabang qira'at Al-Qur’an, Cabang hafalan Al-Qur’an , Cabang tafsir Al-Qur’an , Cabang fahmil Qur’an , Cabang syarhil Qur’an, Cabang seni kaligrafi Al-Qur’an , Cabang musabaqah karya tulis ilmiah Al-Qur’an dan Cabang musabaqah Al-Hadis.
Masyarakat Sumatera Utara merupakan masyarakat inklusif yang memiliki tradisi budaya majemuk.
Keberagaman suku yaitu Melayu, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Batak, Mandailing, Nias, Jawa, Minang, Aceh, Banjar dan lainnya.
Keberagaman ini menjadi kekayaan sosial yang perlu dirawat melalui nilai-nilai persatuan.
Dalam hal ini, MTQ berfungsi sebagai ruang publik yang mempertemukan masyarakat dalam satu semangat yang sama yaitu dengan memuliakan Al-Qur’an.
Kolaborasi dan solidaritas sosial serta interaksi lintas komunitas dapat terwujud selama pelaksanaan MTQ.
Di tengah arus globalisasi yang tanpa batas ditandai dengan mudahnya akses informasi dan digitalisasi, berbagai masyarakat menghadapi tantangan berupa menurunnya kualitas interaksi sosial yang mengakibatkan meningkatnya sikap individualisme, serta meluasnya informasi yang tidak sejalan dengan nilai moral dan spiritual.
MTQ diharapkan menjadi pemersatu umat dengan semangat kebersamaan, persaudaraan, serta tekad membangun Sumatera Utara dalam semangat kolaborasi menuju sumut yang berkah.
MTQ sebagai media komunikasi religius yang merupakan proses penyampaian nilai-nilai keagamaan bertujuan membentuk pemahaman, sikap, dan perilaku sosial masyarakat.
Dalam hal ini, James W. Carey menjelaskan bahwa komunikasi bukan sekadar proses transmisi informasi, melainkan juga ritual yang memelihara kehidupan bersama melalui pembentukan makna kolektif.
MTQ merupakan praktik komunikasi ritual yang memungkinkan masyarakat berbagi pengalaman spiritual secara bersama-sama.
Disaat ribuan orang berkumpul untuk mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, disitu pulalah keberlangsungan proses produksi nilai yang memperkuat identitas dan solidaritas sosial masyarakat.
Pada teori komunikasi interaksi simbolik dalam kajian komunikasi interpersonal mind dan self dapat dipahami bahwa manusia membangun realitas sosial melalui simbol-simbol yang dipahami bersama.
Simbol memiliki kemampuan membentuk makna yang memengaruhi perilaku individu maupun kelompok. Simbol-simbol religius hadir melalui tilawah, tafsir, syarhil Qur’an, kaligrafi, dan berbagai ekspresi budaya Islam lainnya.
Simbol-simbol tersebut tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga diinternalisasi menjadi pedoman hidup yang memengaruhi cara masyarakat memandang dan menjalani kehidupan sosial.
MTQ Sumatera Utara ke 40 tahun 2026 banyak melibatkan lintas generasi, termasuk didalamnya adalah generasi muda.
Kehadiran generasi muda tidak hanya sebagai peserta perlombaan, tetapi juga sebagai dewan hakim, panitia, operator, konten kreator dakwah, hingga pengembang literasi digital berbasis nilai Islam.
Kolaborasi generasi tua dan muda menunjukkan bahwa MTQ melahirkan efek sosial yang konstruktif.
MTQ Sumatera Utara juga memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Setiap penyelenggaraan MTQ menghadirkan mobilitas manusia dalam jumlah besar yang berdampak pada peningkatan aktivitas sektor transportasi, hotel, kuliner, dan usaha mikro kecil menengah lainnya.
Masyarakat lokal dapat memanfaatkan momentum untuk memperkenalkan produk unggulan lokal.
Sehingga kegiatan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi masyarakat, investasi sosial dan menghasilkan manfaat multidimensi bagi daerah penyelenggara.
.
Tema yang diusung pada MTQ Sumut ke 40 adalah “Satu Irama Tilawah Satu Tekad Dalam Kolaborasi Sumut Berkah” Dalam perspektif ilmu komunikasi mengandung pesan keselarasan nilai dan sinergi tindakan.
Komunikasi nilai-nilai Qurani mencerminkan komitmen kebersamaan dalam membangun masyarakat Sumatera Utara yang berkah dan berkemajuan.
Tulisan sambutan ini bertujuan untuk memberikan makna bahwa MTQ Sumut ke 40 bertransformasi menjadi media komunikasi religius yang berkontribusi terhadap pembangunan spiritual masyarakat di Sumatera Utara.
Tidak memposisikan MTQ hanya sebatas agenda rutin keagamaan tetapi juga memberikan dampak sosial yang positif.
Group Communication dalam keberagaman masyarakat Sumatera Utara yang memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi dalam suasana yang harmonis.
Semakin besar fungsi komunikasi religius dalam penyelenggaraan MTQ maka semakin besar pula kontribusi terhadap terwujudnya Sumatera Utara yang berkah.(R.01).
Tags
Peristiwa
