Oleh : Kiyai Khalifah Dr Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.*
Alumnus S-1 (USU), S-2 (UI), S3 Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia @ Materials Physics, Meta Physics & Hiper Meta Physics Sufistics.
Abstrak
Tulisan ini berupaya menelusuri jejak spiritual
para Waliyulloooh Wali Pitu di Bali sebagai refleksi perjalanan makrifat
dalam dimensi sufistik Islam Nusantara. Melalui pendekatan historis, teologis dan kultural, makalah ini menempatkan “napak tilas” bukan hanya sebagai ziarah
fisik, melainkan juga sebagai perjalanan batin menuju tangga makrifat melalui
jejak para ulama, khalifah, khulafā’ur rāsyidīn hingga mencapai kesadaran
tertinggi tentang Rasūl dan Alloooh. Struktur perjalanan ini dibingkai dalam
konteks harmoni Islam dan budaya lokal, sebagai bukti keindahan simfoni
makrifat Nusantara yang tetap hidup dalam denyut spiritual masyarakat Bali
hingga hari ini.
Kata Kunci: Wali
Pitu, Maqām, Makrifat, Bali, Tasawuf, Islam Nusantara
1. Pendahuluan
Tradisi ziarah ke makam Waliyulloooh merupakan
salah satu wujud nyata dari spiritualitas Islam yang menembus batas ruang dan
waktu. Di Nusantara, tradisi ini berakar kuat dalam warisan tasawuf yang
menekankan keseimbangan antara dimensi lahiriah dan batiniah (Azra, 2004).
Salah satu warisan unik itu adalah keberadaan Wali Pitu di Pulau Bali, tujuh tokoh suci penyebar Islam yang dikenal karena kebijaksanaan, karomah, dan
dakwah rahmatan lil ‘alamin di tengah pluralitas budaya Hindu Bali
(Fathurahman, 2019).
Perjalanan napak tilas menuju maqām Wali Pitu tidak
sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi media introspeksi spiritual menuju
tangga makrifat: mengenal para ulama, memahami warisan khalifah,
meneladani Khulafā’ur Rāsyidīn, hingga mencapai kesadaran tertinggi
tentang Rasūl dan Alloooh (Nasr, 2007).
2. Tangga Pertama: Ulama sebagai
Pewaris Ilmu dan Nur Muhammad
Ulama adalah lentera zaman, penjaga ilmu dan akhlak Rasūlullah ﷺ. Dalam
pandangan al-Ghazali (Ihya’ Ulum al-Din), ulama sejati bukan hanya pengajar,
melainkan pewaris cahaya nubuwah. Di Bali, peran ini tercermin dalam tokoh
seperti Syekh Maulana Yusuf al-Maghribi, Syekh Abdul Qadir Muhammad,
dan Syekh Abdul Jalil, yang berdakwah dengan kebijaksanaan lokal,
membangun harmoni antara Islam dan budaya setempat (Lubis, 2020).
Tangga pertama ini mengajarkan bahwa makrifat tidak mungkin tercapai
tanpa ilmu dan adab. Ulama menjadi penghubung antara akal dan hati, antara
syariat dan hakikat.
3. Tangga Kedua: Khalifah sebagai
Penjaga Amanah dan Keadilan
Konsep khalifah fil-ardh mengandung makna tanggung jawab
spiritual dan sosial. Dalam konteks Wali Pitu, para khalifah adalah penerus
risalah Rasululloooh yang menjaga keutuhan ummat melalui dakwah lembut dan
teladan moral (Ibn Khaldun, 1967). Mereka menegakkan adl (keadilan) dan ihsan
(kebaikan), mengingatkan bahwa menjadi khalifah berarti menjaga bumi dan
jiwa manusia dari kerusakan (Q.S. Al-Baqarah: 30).
Makrifat pada tahap ini adalah kesadaran akan amanah kepemimpinan yang
bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk melayani kehidupan dan kemanusiaan.
4. Tangga Ketiga: Khulafā’ur
Rāsyidīn sebagai Cermin Keteladanan
Empat khalifah utama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali mewariskan
empat maqām batin yang menjadi pedoman setiap salik :
- Abu
Bakar: maqām sidq (kejujuran)
- Umar:
maqām adl (keadilan)
- Utsman:
maqām haya’ (malu kepada Alloooh)
- Ali:
maqām hikmah (kebijaksanaan batin)
Jejak Wali Pitu di Bali mencerminkan empat maqām ini dalam perilaku
dakwahnya: sabar menghadapi penolakan, adil terhadap budaya lokal, lembut
terhadap masyarakat, dan bijak dalam menanamkan tauhid di tengah pluralisme
(Ricklefs, 2012).
5. Tangga Keempat: Rasūl sebagai
Puncak Maqām Insān Kāmil
Pada puncak tangga makrifat, seorang salik meneladani Rasūlulloooh ﷺ
sebagai insān kāmil, manusia sempurna. Rasūl menjadi cermin
kesempurnaan cinta, ilmu, dan pengabdian. Dalam konteks perjalanan ke maqām
Wali Pitu, kehadiran spiritual Nabi dirasakan melalui barokah yang
mengalir di setiap langkah ziarah (Chittick, 1989).
Napak tilas ke makam para wali sejatinya adalah perjalanan menuju
“sifat-sifat Rasul” dalam diri: keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, dan
totalitas pengabdian kepada Alloooh.
6. Tangga Kelima: Alloooh sebagai Puncak Makrifat
Makrifat kepada Alloooh adalah fana’ fillah, lenyapnya ego dalam lautan cinta Ilaaahi (Al-Qusyairi, 1999). Perjalanan ke
maqām para Wali Pitu hanyalah simbol dari perjalanan menuju Dzat Yang Maha Esa.
Disinilah manusia memahami makna kalimat tauhid secara eksistensial: Laa ilaaaha illa Alloooh, tiada wujud selain Dia.
Para Wali Pitu bukan tujuan akhir, tetapi jembatan
yang mengantarkan jiwa menuju kesadaran tauhid sejati.
7. Simfoni Makrifat Nusantara
Simfoni ini adalah harmoni antara ilmu, adab, dan
cinta. Bali, dengan keindahan alam dan keragaman budayanya, menjadi pentas
spiritual bagi resonansi Islam yang lembut, penuh kasih, dan toleran. Tradisi
Wali Pitu adalah simbol Islam Nusantara. Islam yang tidak memaksa, melainkan
memeluk; Islam yang tidak memisah, tetapi mempersatukan (Madjid, 1992).
8. Penutup
Napak tilas maqām Waliyulloooh Wali Pitu Bali bukan
hanya perjalanan historis, tetapi proses kontemplatif menuju tangga makrifat.
Melalui ulama, khalifah, Khulafā’ur Rāsyidīn, Rasūl, hingga Alloooh, kita diajak
meniti tangga kesadaran dari pengetahuan menuju kebijaksanaan, dari dzahir
menuju batin, dari diri menuju Ilaaahi.
Inilah simfoni makrifat Nusantara: harmoni antara langit dan bumi, antara cinta
dan ilmu, antara manusia dan Alloooh.(ms2).

.jpeg)
.jpeg)
