Oleh:
Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si. Kepala Laboratorium Fisika Nuklir, Universitas Sumatera Utara
Abstrak
Hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menyatakan bahwa orang kuat bukanlah mereka
yang menang dalam bergulat, melainkan yang mampu menahan nafsunya, menawarkan
redefinisi radikal terhadap konsep kekuatan manusia. Makalah ini menganalisis
hadis tersebut melalui pendekatan integratif yang mencakup fisika kesadaran
(sebagai model analitik), metafisika tauhid (sebagai kerangka ontologis), dan
tasawuf (sebagai disiplin praksis spiritual). Dengan merujuk pada Al-Qur’an,
hadis sahih dan hadis qudsi, serta legitimasi ijma’ dan qiyas ulama, kajian ini
menunjukkan bahwa pengendalian nafsu merupakan proses reduksi ego yang
mengantarkan manusia dari disiplin syariat menuju kesadaran makrifatullah.
Kekuatan sejati dalam Islam dipahami bukan sebagai dominasi eksternal,
melainkan sebagai stabilitas batin dan penyerahan total kepada kehendak Ilaaahi.
Kata kunci: pengendalian nafsu, reduksi ego, kesadaran,
tauhid, tasawuf
I. Pendahuluan
Dalam peradaban modern, kekuatan sering dipahami sebagai kapasitas
fisik, penguasaan teknologi, atau dominasi psikologis. Islam, melalui sabda
Nabi Muhammad ﷺ, justru menempatkan kekuatan sejati pada ranah batin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ
نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, melainkan orang yang
mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung dimensi etik, psikologis, dan ontologis yang
mendalam. Ia menuntut pembacaan lintas disiplin agar maknanya tidak direduksi
menjadi sekadar nasihat moral. Oleh karena itu, makalah ini mengajukan
pembacaan integratif dengan mengaitkan konsep pengendalian nafsu dengan reduksi
ego, menggunakan analogi fisika kesadaran, kerangka metafisika tauhid, dan
metodologi tasawuf Islam.
II. Landasan Teoretik dan
Metodologis
2.1. Fisika Kesadaran sebagai
Model Analitik
Dalam fisika, kestabilan sistem ditentukan oleh reduksi fluktuasi
energi dan tercapainya keadaan minimum (ground state). Analogi ini
digunakan secara model konseptual, bukan klaim saintifik literal. Ego
manusia dapat dipahami sebagai sistem kesadaran dengan fluktuasi tinggi akibat
dorongan nafsu, emosi, dan kelekatan identitas.
Pengendalian nafsu, dalam kerangka ini, menyerupai proses disipasi
energi ego, menuju keadaan kesadaran yang stabil dan tidak reaktif.
2.2. Metafisika Tauhid
Metafisika Islam menegaskan bahwa hanya Alloooh yang memiliki wujud
mutlak, sementara manusia bersifat kontingen dan bergantung sepenuhnya
kepada-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ
الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Alloooh; Alloooh-lah Yang Maha Kaya
lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)
Ego yang absolut bertentangan langsung dengan prinsip tauhid ini. Maka,
reduksi ego merupakan keniscayaan metafisik.
2.3. Tasawuf sebagai Disiplin
Praksis
Tasawuf memposisikan pengendalian nafsu sebagai inti perjalanan
spiritual (sulūk). Al-Ghazali menegaskan bahwa penyucian jiwa (tazkiyat
al-nafs) merupakan prasyarat bagi penyingkapan kebenaran (kasyf) dan
makrifat.
III. Analisis Syariat:
Pengendalian Nafsu sebagai Kewajiban Normatif
Dalam perspektif syariat, pengendalian nafsu merupakan perintah
eksplisit dan implisit dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Alloooh SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا • وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang
mengotorinya.”
(QS. asy-Syams: 9–10)
Puasa diwajibkan sebagai sarana pengendalian diri:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kamu bertakwa.”
(QS. al-Baqarah: 183)
Dalam kerangka syariat, kekuatan diukur dari kemampuan menahan
dorongan nafsu dalam batas hukum Alloooh, bukan dari ekspresi agresi atau
dominasi.
IV. Analisis Tarekat: Mujahadah
dan Reduksi Ego
Pada tingkat tarekat, pengendalian nafsu dipraktikkan melalui mujahadah
al-nafs dan riyadhah. Proses ini bukan sekadar menekan nafsu, tetapi
melatih kesadaran agar tidak dikuasai oleh impuls egoistik.
Alloooh SWT berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
(QS. al-‘Ankabut: 69)
Dalam perspektif ini, hadis tentang orang kuat dipahami sebagai
indikator keberhasilan mujahadah. Ego mulai kehilangan dominasinya, seiring
kesadaran tunduk pada kehendak Ilaaahi.
V. Analisis Hakikat: Reduksi Ego
dan Kematian Psikologis
Pada tingkat hakikat, pengendalian nafsu mengalami transformasi
ontologis. Ego tidak lagi dilawan, tetapi ditanggalkan klaimnya sebagai
pusat eksistensi. Inilah makna al-maut qabla al-maut (mati sebelum
mati).
Al-Qur’an menegaskan kefanaan segala sesuatu:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
(QS. al-Qashash: 88)
Dalam konteks ini, orang kuat adalah mereka yang telah mengalami disolusi
identitas ego, sehingga amarah dan nafsu tidak lagi memiliki pusat untuk
melekat.
VI. Analisis Makrifat: Tauhid
Kesadaran dan Penyerahan Total
Makrifat merupakan puncak perjalanan, ketika kesadaran manusia berporos
sepenuhnya pada Alloooh. Hadis qudsi menyatakan:
“Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah
hingga Aku mencintainya. Maka Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya,
tangannya, dan kakinya.”
(HR. al-Bukhari)
Hadis ini tidak mengandung makna inkarnasi, melainkan lenyapnya ego
sebagai pengendali, digantikan oleh kesadaran tauhid relasional. Pada maqam
ini, pengendalian nafsu terjadi secara natural karena tidak ada lagi pusat
ego yang perlu dikendalikan.
VII. Ijma’ dan Qiyas dalam
Legitimasi Konsep
7.1. Ijma’
Para ulama sepakat bahwa pengendalian nafsu merupakan prinsip
fundamental dalam Islam. Konsensus ini terlihat dalam:
- kewajiban
puasa,
- larangan
mengikuti hawa nafsu,
- penekanan
tazkiyat al-nafs dalam tasawuf Sunni.
Tidak ada mazhab muktabar yang menolak prinsip ini.
7.2. Qiyas
Melalui qiyas, pengendalian nafsu dapat dianalogikan dengan:
- pengekangan
syahwat melalui puasa,
- penahanan
lisan dari ghibah,
- penundukan
amarah sebagai bentuk jihad al-akbar.
Dengan demikian, hadis tentang “orang kuat” memiliki koherensi penuh
dengan sistem hukum dan etika Islam.
VIII. Diskusi Integratif
Jika disintesiskan:
- Fisika
kesadaran menjelaskan stabilisasi sistem ego,
- Metafisika
tauhid menegaskan kefanaan ego,
- Tasawuf
menyediakan metodologi praksis,
- Syariat,
tarekat, hakikat, dan makrifat membentuk lintasan
transformasi utuh.
Kekuatan sejati bukan akumulasi daya, melainkan pengosongan diri dari
klaim palsu.
IX. Kesimpulan
Makalah ini menyimpulkan bahwa hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang kekuatan
sejati mengandung struktur epistemologis dan ontologis yang mendalam.
Pengendalian nafsu merupakan proses reduksi ego yang membawa manusia dari
kepatuhan normatif menuju tauhid kesadaran dan makrifatullah. Dalam Islam,
kekuatan sejati bukanlah kemampuan menundukkan orang lain, melainkan
keberhasilan menundukkan ego demi kehadiran Alloooh dalam seluruh dimensi
kehidupan.(ms2).

