Oleh:
Dr. Riad Jamil S.Pd,I,.M.M
Akademisi, Direktur Pasca Sarjana STAI Al-Ma'arif Ciamis.
Doktor Ilmu Pendidikan, Praktisi / Penggiat Pendidikan
Ketua Forum Studi Islam Dan Kemsyarakatan- Jawa Barat
Pendahuluan
Hari Guru Nasional 2025 menjadi momentum reflektif bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk menilai kembali posisi strategis guru dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam dinamika perubahan abad ke-21—ditandai oleh digitalisasi, globalisasi nilai, dan akselerasi teknologi kecerdasan buatan—peran guru terus mengalami redefinisi. Namun di tengah kompleksitas tersebut, terdapat satu aspek yang tetap menjadi inti profesi guru, yaitu jiwa profesi (professional spirit). Jiwa profesi inilah yang melandasi spirit kepahlawanan guru, bukan dalam pengertian heroisme romantik, tetapi dalam bentuk tanggung jawab etis, kompetensi, dan komitmen moral.
Artikel ini berusaha memaparkan konseptualisasi jiwa profesi guru, relevansinya bagi kepahlawanan guru masa kini, serta bagaimana lingkungan kelembagaan dan kebijakan dapat menopang keberlanjutan jiwa profesi tersebut.
Konseptualisasi Jiwa Profesi Guru
1. Jiwa Profesi sebagai Kesadaran Moral
Konsep jiwa profesi berakar pada teori etika profesi yang menekankan bahwa seorang profesional bertindak bukan hanya karena kewajiban kerja, tetapi berorientasi pada nilai moral yang lebih tinggi. Dalam konteks guru, kesadaran moral ini terwujud dalam usaha menjaga integritas akademik, memberikan layanan terbaik bagi setiap peserta didik, serta menjaga martabat profesi.
2. Jiwa Profesi sebagai Kompetensi Berkelanjutan
Profesionalisme guru tidak berhenti pada penguasaan materi ajar, tetapi meliputi kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan manajerial yang terus ditingkatkan. Konsep lifelong learning menjadi landasan bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Jiwa profesi mendorong guru untuk senantiasa memperbaharui pengetahuan, mengadopsi teknologi baru, dan mengevaluasi praktik pembelajaran secara reflektif.
3. Jiwa Profesi sebagai Komitmen Pengabdian
Dalam banyak literatur pendidikan, guru dipandang sebagai penggerak perubahan sosial (agent of change). Komitmen ini menuntut guru untuk memahami konteks sosial peserta didik, membangun hubungan empatik, dan mengarahkan pendidikan pada pembentukan karakter. Komitmen pengabdian menjadikan guru melebihi fungsi instruksional semata; ia menjadi pembimbing moral dan arsitek lingkungan belajar.
Spirit Kepahlawanan Guru Masa Kini
1. Kepahlawanan dalam Era Disrupsi Teknologi
Saat teknologi digital dan kecerdasan buatan memasuki seluruh aspek kehidupan, guru menghadapi tantangan baru: memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan dimensi humanistik pendidikan. Kepahlawanan guru hari ini terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi dengan sentuhan kemanusiaan—membangun ruang belajar yang tetap hangat, empatik, dan bermakna.
2. Kepahlawanan sebagai Keberanian Menjaga Integritas
Pada beberapa kasus, tekanan birokrasi dan tuntutan administrasi dapat menggerus kualitas pembelajaran. Guru yang berani menjaga integritas—jujur dalam penilaian, adil dalam perlakuan, dan konsisten dengan standar etika—adalah bentuk nyata dari kepahlawanan. Integritas ini sekaligus menjadi penyangga utama bagi kualitas sistem pendidikan nasional.
3. Kepahlawanan dalam Pengabdian di Area Marginal
Di banyak wilayah Indonesia, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), guru menjalankan tugas dengan keterbatasan fasilitas, akses, dan dukungan. Kehadiran mereka di ruang-ruang marginal merupakan bukti paling konkret dari kepahlawanan profesi. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi menjadi pembangun harapan bagi peserta didik dan komunitas.
Tantangan Struktural dalam Merawat Jiwa Profesi
1. Beban Administrasi yang Menghambat Proses Pembelajaran
Banyak studi menunjukkan bahwa beban administrasi guru masih terlalu berat, sehingga mengurangi ruang kreativitas dalam merancang pembelajaran. Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas hubungan guru–peserta didik dan menipisnya ruang untuk refleksi pedagogik.
2. Kesejahteraan dan Stabilitas Profesi
Kesejahteraan yang tidak merata, terutama bagi guru honorer dan guru swasta, menimbulkan disorientasi dan burnout. Ketidakpastian status kepegawaian juga berpotensi melemahkan jiwa profesi, karena guru lebih fokus pada survival ekonomi dibanding peningkatan mutu.
3. Kurangnya Ruang Pengembangan Profesional Berkelanjutan
Program pengembangan kompetensi guru sering bersifat proyek, bukan ekosistem berkelanjutan. Padahal jiwa profesi membutuhkan lingkungan yang mendukung peningkatan kapasitas secara terus-menerus, termasuk akses pada pelatihan berkualitas, kolaborasi antarguru, dan penelitian tindakan kelas.
Strategi Penguatan Jiwa Profesi Guru
1. Penguatan Ekosistem Sekolah yang Humanis
Sekolah harus menjadi ruang kerja yang sehat secara psikologis, bebas dari kultur intimidatif, dan mengedepankan kolaborasi. Ekosistem yang humanis akan memperkuat kesehatan mental guru dan memungkinkan mereka bekerja dengan penuh dedikasi.
2. Reformasi Administrasi Pendidikan
Diperlukan kebijakan yang menata ulang beban administrasi guru sehingga fokus utama mereka kembali pada pembelajaran. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk streamlining pelaporan dan pengumpulan data.
3. Investasi pada Profesionalisme Guru
Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memperluas akses pada program peningkatan kompetensi berbasis kebutuhan, berkelanjutan, dan berbasis riset. Guru perlu terlibat dalam learning community yang memungkinkan praktik saling belajar dan peningkatan kinerja kolektif.
4. Penguatan Identitas Keprofesian
Organisasi profesi guru harus lebih aktif menyediakan ruang diskusi etika, kode etik, dan refleksi profesi. Identitas keprofesian yang kuat akan memperkokoh moralitas profesi dan meminimalisir praktik yang merusak integritas pendidikan.
Penutup
Spirit kepahlawanan guru masa kini tidak dapat dipahami hanya sebagai cerita pengorbanan, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka profesionalisme yang integral. Jiwa profesi adalah energi etis yang mendorong guru untuk konsisten menjaga martabat pendidikan: berintegritas, kompeten, dan berkomitmen pada kemanusiaan peserta didik.
Dalam konteks Hari Guru Nasional 2025, merawat jiwa profesi berarti memastikan bahwa guru memperoleh lingkungan yang layak untuk tumbuh, dihargai, dan mengembangkan diri. Ketika jiwa profesi terjaga, pendidikan Indonesia tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang berkarakter, berakhlak, dan siap menjadi warga bangsa yang bertanggung jawab. (ms2).