Oleh:
1. Muhammad Dimas Arjen Bintaro
(Mahasiswa Progam Studi Ilmu Filsafat, Fakultas Agama Islam dan Humaniora
(FAIH) – Universitas Pembangunan Panca Budi ( UNPAB) – Medan.
2.Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang
Sihotang, S.Si., M.Si (Kepala Laboratorium Fisika Nuklir Universitas Sumatera
Utara (USU)-Medan, Peneliti Pusat Unggulan Inovasi Ipteks (PUI) Karbon
Kemenyan, Program Studi (Prodi) Fisika-Fakultas Matematika & Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA)-USU), Dosen Mata Kuliah Fisika Sawit USU, Dosen
Mata Kuliah Filsafat Ketuhanan, Urban Sufisme - Universitas Pembangunan Panca
Budi (UNPAB) -Medan.
https://linktr.ee/muhammadsontangsihotang
https://linktr.ee/sontangsihotang
Correspondence: muhammad.sontang@usu.ac.id
Fenomena
ini bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebangkitan
sufisme di wilayah urban merupakan respons atas krisis spiritual dan
alienasi sosial yang dialami generasi muda perkotaan (Hakim, 2021; Sodik
& Sujibto, 2023). Di kota-kota Indonesia, termasuk Siantar, remaja
mulai mencari makna di luar materialisme dan performativitas digital.
Filsafat Urban Sufisme: Spiritualitas di Tengah Fragmentasi
Kota
Urban
sufisme berpijak pada filsafat tasawuf klasik yang menekankan tazkiyatun
nafs (penyucian jiwa), namun dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern.
Tidak lagi identik dengan asketisme ekstrem, sufisme urban justru hadir sebagai
spiritualitas fleksibel dan adaptif.
Menurut
Howell (2002), urban sufisme berkembang sebagai bentuk “depth spirituality”
bagi masyarakat kosmopolitan yang mengalami kekosongan makna di tengah
modernitas. Sementara itu, konsep “kesalehan aktif” dari Asef Bayat yang
diadaptasi dalam studi sufisme urban menunjukkan bahwa spiritualitas kini tidak
hanya bersifat individual, tetapi juga sosial (Anas et al., 2025).
Di
Siantar, filsafat ini diterjemahkan oleh remaja dalam bentuk sederhana:
refleksi diri, komunitas dzikir, dan aktivitas sosial berbasis empati.
Konsep & Teori: Dari Krisis Identitas ke Transformasi
Diri
Secara
teoritis, urban sufisme dapat dipahami melalui tiga pendekatan utama:
Menariknya,
penelitian juga menunjukkan bahwa sufisme urban sering menjadi alternatif dari
formalisme agama yang kaku, dengan pendekatan yang lebih inklusif dan emosional
(Sodik & Sujibto, 2023).
Program Kerja: Dari Majelis ke Ruang Publik Kota
Di
Siantar, urban sufisme berpotensi dikembangkan melalui program kerja strategis
yang menyasar remaja:
- “Ngopi Sufi” (Ngobrol Pikiran & Hati)Diskusi santai tentang makna hidup, kesehatan mental, dan spiritualitas.
- Kelas Dzikir & Mindfulness IslamiIntegrasi antara praktik tasawuf dan teknik psikoterapi modern.
- Urban RetreatKegiatan refleksi diri di ruang alam sekitar kota.
- Sufi Creative LabEkspresi seni (puisi, musik, konten digital) berbasis nilai spiritual.
Program-program
ini selaras dengan temuan bahwa sufisme urban berkembang melalui komunitas
informal dan pendekatan kreatif (Rijal, 2018).
Kegiatan Nyata: Gerakan Sunyi yang Berdampak
Implementasi
kegiatan urban sufisme tidak harus formal. Justru kekuatannya terletak pada
kesederhanaan:
- Majelis dzikir anak muda
- Gerakan sedekah komunitas
- Kampanye “slow living” di media
sosial
- Sharing circle tentang
kecemasan dan makna hidup
Penelitian
menunjukkan bahwa praktik seperti dzikir dan refleksi diri memiliki dampak
signifikan terhadap kesehatan mental dan ketenangan psikologis (Dzakiyah,
2020).
Aplikasi Berdampak: Dari Spiritualitas ke Transformasi
Sosial
Urban
sufisme bukan hanya soal religiusitas, tetapi juga transformasi sosial.
Dampaknya meliputi:
- Penguatan kesehatan mental
remaja
- Reduksi perilaku destruktif
(hedonisme, nihilisme)
- Peningkatan empati sosial dan
solidaritas komunitas
- Pembentukan identitas diri yang
lebih stabil
Fenomena
ini juga menunjukkan bahwa remaja tidak anti-agama, tetapi menuntut pendekatan
yang lebih autentik dan relevan.
Siantar sebagai Laboratorium Urban Sufisme?
Dengan
karakter kota yang tidak terlalu besar namun cukup dinamis, Pematangsiantar
memiliki peluang menjadi model pengembangan urban sufisme berbasis komunitas.
Tidak seperti kota metropolitan, pendekatan di Siantar bisa lebih organik,
berbasis relasi sosial yang kuat.

