Oleh:
1. Muhammad Dimas Arjen Bintaro
(Mahasiswa Progam Studi Ilmu Filsafat, Fakultas Agama Islam dan Humaniora
(FAIH) – Universitas Pembangunan Panca Budi ( UNPAB) – Medan.
2.Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang
Sihotang, S.Si., M.Si (Kepala Laboratorium Fisika Nuklir Universitas Sumatera
Utara (USU)-Medan, Peneliti Pusat Unggulan Inovasi Ipteks (PUI) Karbon
Kemenyan, Program Studi (Prodi) Fisika-Fakultas Matematika & Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA)-USU), Dosen Mata Kuliah Fisika Sawit USU, Dosen
Mata Kuliah Filsafat Ketuhanan, Urban Sufisme - Universitas Pembangunan Panca
Budi (UNPAB) -Medan.
https://linktr.ee/muhammadsontangsihotang
https://linktr.ee/sontangsihotang
Correspondence: muhammad.sontang@usu.ac.id
Tebing Tinggi – Fenomena Baru
Pendidikan Spiritual di Era Digital
Di
tengah derasnya arus digitalisasi, krisis moral, tekanan mental generasi muda,
dan budaya instan media sosial, mata kuliah Urban Sufisme di Tebing
Tinggi mulai menjadi sorotan publik. Tidak hanya dianggap sebagai kajian
keagamaan biasa, Urban Sufisme kini dipandang sebagai pendekatan revolusioner
yang menggabungkan spiritualitas, filsafat hidup modern, etika sosial, dan
pembangunan karakter masyarakat urban.
Program
ini disebut-sebut mampu menjawab kegelisahan masyarakat modern, khususnya
kalangan remaja Gen Z, dunia industri, hingga civitas academica yang
tengah menghadapi tantangan dehumanisasi akibat teknologi dan budaya konsumtif.
Para
akademisi menilai Urban Sufisme bukan sekadar pengajian tasawuf klasik,
melainkan transformasi spiritual modern yang relevan dengan kehidupan
perkotaan, media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan budaya kerja industri masa
kini.
Falsafat
Urban Sufisme: Spiritualitas di Tengah Hiruk Pikuk Kota
Secara
filosofis, Urban Sufisme berangkat dari pemikiran bahwa manusia modern
mengalami kekosongan makna hidup akibat dominasi materialisme, kapitalisme, dan
budaya digital.
Konsep
ini menekankan:
- keseimbangan
dunia dan akhirat,
- ketenangan
batin,
- pengendalian
diri,
- empati
sosial,
- kesadaran
moral,
- dan
spiritualitas produktif.
Menurut
kajian Ahmad Muttaqin (2021), Urban Sufisme merupakan bentuk “hybrid spirituality”,
yakni perpaduan spiritualitas klasik Islam dengan kebutuhan masyarakat modern
perkotaan.
Dalam
perspektif filsafat pendidikan Islam, Urban Sufisme menghidupkan kembali nilai:
- zuhud
modern,
- kesadaran
sosial,
- mindfulness
Islami,
- dan
etika kemanusiaan universal.
Konsep Urban
Sufisme di Tebing Tinggi
Mata
kuliah Urban Sufisme di Tebing Tinggi dikembangkan sebagai pendekatan
multidisipliner yang mengintegrasikan:
|
Aspek |
Implementasi |
|
Spiritualitas |
Dzikir,
refleksi diri, akhlak |
|
Sosial |
Kepedulian
masyarakat urban |
|
Psikologi |
Pengendalian
stres & kecemasan |
|
Teknologi |
Etika
digital & media sosial |
|
Pendidikan |
Karakter
mahasiswa |
|
Industri |
Integritas
kerja dan kepemimpinan |
Mahasiswa
tidak hanya mempelajari teori tasawuf, tetapi juga:
- fenomena
spiritual Gen Z,
- budaya
digital,
- kesehatan
mental,
- serta
etika sosial perkotaan.
Teori Utama
(Grand Theory)
1. Teori Tasawuf Sosial – KH. Sahal
Mahfudh
Tasawuf
tidak hanya ritual individual, tetapi harus berdampak sosial dan membangun
masyarakat.
2. Teori Modernitas dan Alienasi –
Karl Marx & Erich Fromm
Masyarakat
modern mengalami keterasingan akibat industrialisasi dan kapitalisme.
3. Spiritual Intelligence Theory –
Danah Zohar & Ian Marshall
Kecerdasan
spiritual menjadi fondasi manusia modern dalam menghadapi tekanan hidup.
4. Humanistic Education – Abraham
Maslow
Manusia
membutuhkan aktualisasi diri dan makna hidup, bukan sekadar pencapaian
material.
5. Urban Sufism Theory
Urban
Sufisme dipahami sebagai transformasi praktik sufistik ke dalam ruang urban
modern melalui media digital, komunitas sosial, dan pendidikan tinggi.
State of The
Art (Kebaruan Kajian)
Kajian
sebelumnya umumnya hanya membahas:
- tasawuf
klasik,
- tarekat
tradisional,
- atau
dakwah spiritual.
Namun
penelitian terbaru menunjukkan adanya pergeseran menuju:
- spiritualitas
digital,
- sufisme
media sosial,
- healing
Islami,
- dan
pendidikan karakter urban.
Kebaruan (Novelty) Program Urban
Sufisme Tebing Tinggi:
1. Mengintegrasikan tasawuf dengan
dunia digital.
2.Menjadikan sufisme sebagai solusi
kesehatan mental Gen Z.
3.Menghubungkan spiritualitas dengan
etika industri modern.
4.Mengembangkan model pembelajaran
sufistik berbasis masyarakat urban.
5.Menggabungkan pendidikan akademik
dengan praktik sosial spiritual.
Tujuan
Program Urban Sufisme
Program
ini memiliki beberapa tujuan strategis:
1. Membentuk Karakter Mahasiswa
Mahasiswa
diarahkan menjadi pribadi:
- religius,
- toleran,
- kritis,
- dan
berintegritas.
2. Menekan Krisis Mental Generasi
Muda
Urban
Sufisme dianggap efektif mengurangi:
- kecemasan
digital,
- depresi
sosial,
- krisis
identitas,
- dan
budaya toxic online.
3. Membangun Etika Industri
Nilai
sufistik seperti:
- kejujuran,
- amanah,
- disiplin,
- dan
empati
dinilai relevan bagi dunia kerja modern.
4. Menguatkan Harmoni Sosial
Program
ini mendorong budaya:
- moderasi
beragama,
- toleransi,
- dan
solidaritas masyarakat urban.
Dampak Besar bagi Masyarakat
Masyarakat
mulai memahami agama secara lebih damai, humanis, dan relevan dengan kehidupan
modern.
Dampak bagi Gen Z
Generasi
muda merasa Urban Sufisme:
- lebih
relatable,
- tidak
menggurui,
- dan
mampu menjawab keresahan psikologis era digital.
Dampak bagi Dunia Industri
Perusahaan
membutuhkan SDM yang:
- cerdas
emosional,
- beretika,
- dan
stabil secara mental.
Urban
Sufisme dinilai mampu membentuk budaya kerja sehat.
Dampak bagi Civitas Academica
Kampus
memperoleh pendekatan baru pendidikan karakter berbasis spiritualitas modern.
Analisis
Akademik: Mengapa Urban Sufisme Viral?
Fenomena
ini menjadi viral karena masyarakat modern sedang mengalami:
- krisis
makna hidup,
- overload
informasi,
- dan
tekanan sosial media.
Urban
Sufisme hadir bukan sekadar ajaran agama, tetapi menjadi:
- terapi
sosial,
- pendekatan
psikologis,
- sekaligus
gerakan moral masyarakat urban.
Banyak
pengamat menilai bahwa Urban Sufisme berpotensi menjadi model pendidikan masa
depan di Indonesia.
Kesimpulan
Mata
kuliah Urban Sufisme di Tebing Tinggi bukan sekadar inovasi akademik biasa. Ia
menjadi simbol lahirnya paradigma pendidikan baru yang memadukan:
- spiritualitas,
- teknologi,
- kesehatan
mental,
- etika
sosial,
- dan
pembangunan karakter.
Di
era ketika Gen Z mengalami krisis identitas dan masyarakat urban terjebak dalam
budaya materialistik, Urban Sufisme muncul sebagai “oase spiritual” yang
menjanjikan keseimbangan hidup modern.

