ILUSTRASI. Inalum berupaya mengoptimalkan kinerja operasional
untuk menangkap peluang dari momentum kenaikan harga aluminium pada tahun
ini.(DOK/INALUM)
Portal Medan - JAKARTA. PT
Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum berupaya mengoptimalkan
kinerja operasional untuk menangkap peluang dari momentum kenaikan harga
aluminium pada tahun ini. Memasuki semester II-2026, harga aluminium global
masih bertahan di atas level US$ 3.000 per ton.
Merujuk TradingEconomics, harga
aluminium global sempat menembus level US$ 3.700 per ton pada awal Juni sebelum
melandai kembali ke area US$ 3.100 per ton. Per 21 Juli 2026, kontrak berjangka
aluminium berada di harga US$ 3.166 per ton atau mengakumulasi kenaikan 19,17 %
dalam tahun berjalan 2026.
Sekretaris Perusahaan Inalum, Mahyaruddin AR
mengungkapkan bahwa Inalum terus mencermati perkembangan harga aluminium global
untuk menjaga kinerja Perusahaan. Hingga saat ini, harga acuan aluminium dunia
meningkat dan berada di level yang dinamis sebagai efek dari kondisi geopolitik
global.
"Kami terus berusaha sebaik mungkin untuk
menangkap momentum pertumbuhan ini. Perusahaan tetap melanjutkan upaya-upaya
dalam menjaga keandalan operasi, meningkatkan efisiensi biaya, serta memastikan
proyek-proyek strategis tetap berjalan sesuai jadwal yang ditetapkan,"
kata Mahyaruddin kepada media, Rabu (22/7/2026). Inalum saat ini memiliki
kapasitas produksi hingga 275.000 ton per tahun.
Anggota holding industri
pertambangan BUMN (MIND ID) ini ingin mengoptimalkan kapasitas tersebut dengan
membidik target produksi dan penjualan sebesar 275.000 ton pada tahun 2026.
"Hingga Semester I-2026, kinerja Inalum baik produksi maupun penjualan
masih berjalan sesuai rencana dan tetap on track terhadap target tahunan serta
tumbuh dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu," ungkap
Mahyaruddin tanpa merinci angka realisasi yang dimaksud.
Saat ini
penjualan Inalum masih didominasi oleh pasar domestik dengan kontribusi sekitar
75 %, sementara 25 % lainnya dipasok ke pasar ekspor. Inalum telah melakukan
ekspor ke berbagai negara, terutama Asia. Antara lain ke pasar Korea Selatan,
Jepang, Malaysia, dan Thailand.
Dengan berbagai dinamika yang terjadi pada
tahun ini, Inalum melirik peluang untuk memperluas pasar ekspor. "Inalum
optimistis dalam melihat potensi atas peluang ekspor ke depan, dilihat dari
permintaan akan produk aluminium di market baru. Kami selalu siap berkolaborasi
dengan para mitra global terkemuka dalam melakukan penetrasi dan pengembangan
pasar," tegas Mahyaruddin.
Bersamaan dengan strategi operasional dan
penjualan tersebut, Inalum melanjutkan program hilirisasi aluminium.
Mahyaruddin menegaskan bahwa proyek pengembangan Smelter Aluminium II dan Smelter
Grade Alumina Refinery tahap II (SGAR II) di Mempawah, Kalimantan Barat terus
berjalan sebagai bagian dari strategi jangka panjang Inalum untuk memperkuat
industri aluminium nasional dari hulu hingga hilir.
Guna mendukung berbagai
strategi tersebut, pada tahun ini Inalum menyiapkan belanja modal atau capital
expenditure (capex) sekitar US$ 411 juta. Dari anggaran tersebut, sekitar 5 %
dialokasikan untuk maintenance capex, 20 % untuk investasi pada entitas anak
dan perusahaan asosiasi. Sedangkan mayoritas atau sekitar 75 % digunakan untuk
mendukung proyek hilirisasi.
Adapun, proyek Smelter Aluminium dan SGAR Fase II
saat ini dalam proses finalisasi Final Investment Decision (FID). Inalum
menargetkan proyek hilirisasi ini sudah rampung dan bisa beroperasi pada tahun
2029. "Saat ini, pengembangan proyek strategis Inalum masih berjalan dan
diharapkan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan," ungkap
Mahyaruddin.
Sekadar mengingatkan, pada tahun lalu Inalum
mencapai tonggak penting dengan mencatatkan rekor kinerja tertinggi (all time
high), baik dari sisi produksi maupun penjualan. Inalum mencetak rekor kinerja
operasional tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan produksi aluminium
sebesar 280.082 metrik ton dan penjualan 280.141 metrik ton.
Capaian tersebut mendongkrak
pendapatan, EBITDA dan laba bersih Inalum pada tahun 2025. Masing-masing tumbuh
sekitar 10 %, 17 % dan 15 % dibandingkan tahun sebelumnya. Inalum pun
membagikan dividen dengan nilai lebih dari US$ 200 juta dari kinerja tahun buku
2025.
"Capaian tersebut didorong oleh inovasi berkelanjutan, peningkatan
efisiensi operasional, strategi bisnis yang adaptif, keberhasilan penyelesaian
proyek pot upgrading dalam rangka memperkuat kapasitas produksi perusahaan.
Tentunya juga didukung oleh optimalisasi proses produksi, dan kondisi pasar
aluminium yang cukup baik," tandas Mahyaruddin.(PR kontan.com / ms2)